Sejak pecahnya perang saudara Suriah pada 2011–2012, Kota Hasakah berubah dari kota administratif yang juga nama provinsi biasa menjadi salah satu pusat konflik paling kompleks di Suriah timur laut. Wilayah ini sejak awal memiliki komposisi etnis yang sensitif—Kurdi, Arab, Suryani, dan Asyuri—yang membuat dinamika perang di Hasakah berbeda dibanding kota-kota lain.
Pada awal 2012, Hasakah relatif terhindar dari pertempuran besar seperti yang melanda Aleppo dan Homs. Namun, ketegangan sosial sudah terasa sejak aksi bakar diri Hasan Ali Akleh pada Januari 2011, yang dianggap sebagai salah satu simbol awal perlawanan terhadap rezim Ba’ath di wilayah Jazira Suriah.
Memasuki 2013–2014, kekosongan kekuasaan akibat melemahnya aparat negara membuka ruang bagi berbagai aktor bersenjata termasuk PKK Kurdi yang berbasis di Irak dan menjadikan Turkiye sebagai target. Di Suriah mereka menjadi YPG/PYD yang awalnya hanya kelompok siskamling. Atas undangan Pentagon dan AS, YPG mulai mengambil alih peran keamanan lokal.
Puncak perubahan besar terjadi pada musim panas 2015 dalam Pertempuran Hasakah. Pasukan pemerintah Suriah kehilangan sebagian besar kota akibat serangan ISIS, sebelum akhirnya kelompok tersebut dipukul mundur oleh YPG dengan dukungan koalisi internasional.
Pasca-2015, sekitar 75 persen Kota Hasakah dan seluruh wilayah pedesaan sekitarnya berada di bawah administrasi YPG yang kemudian dikenal AANES. Pemerintah Suriah hanya mempertahankan beberapa kantong kecil di pusat kota, menciptakan realitas pembagian kekuasaan yang unik.
Dampak kemanusiaan dari fase ini sangat besar. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan hingga 120 ribu warga Hasakah mengungsi akibat kekerasan dan ketidakpastian keamanan, menjadikan kota ini salah satu titik krisis pengungsian internal.
Pada Agustus 2016, Dewan Demokratik Suriah (SDC) yang dibentuk oleh YPG dengan anggota termasuk Arab meski belakangan agendanya menjadi anti-Arab, membuka kantor publik di Hasakah, menandai langkah politik formal pertama administrasi otonom Kurdi di kota tersebut. Langkah ini memperkuat posisi politik non-Damaskus di wilayah tersebut.
Namun, ketegangan belum usai. Pada 16 Agustus 2016, bentrokan besar pecah antara YPG-Asayish dan pasukan pemerintah Bashar Al Assad dalam Pertempuran Hasakah kedua. Dalam waktu kurang dari satu pekan, pasukan Kurdi menguasai lebih dari 95 persen kota.
Gencatan senjata yang dimediasi Rusia pada 23 Agustus 2016 menghasilkan kompromi penting. Pemerintah Suriah hanya diperbolehkan mempertahankan apa yang dikenal sebagai “Security Box”, sebuah enklave kecil berisi institusi negara.
Security Box Hasakah mencakup penjara, kantor imigrasi, balai kota, markas polisi, dan komando militer lokal. Sejak saat itu, Hasakah menjadi simbol koeksistensi paksa antara negara Suriah dan administrasi otonom Kurdi (AANES).
Pada 2018, terjadi penyesuaian taktis. Tentara Suriah kembali mengibarkan bendera nasional di Distrik Al-Nashwa. Meski demikian, Asayish tetap hadir dan melakukan penangkapan hingga akhir 2019, menunjukkan kaburnya batas kontrol di lapangan.
Ketegangan kembali meningkat pada Januari 2021 ketika Asayish mengepung wilayah Hasakah dan Qamishli yang dikuasai pemerintah Suriah. Pengepungan ini mencerminkan memburuknya hubungan Damaskus dengan administrasi otonom.
Pada Maret 2023, Hasakah kembali menjadi sorotan internasional setelah Amerika Serikat melakukan serangan balasan terhadap target yang dikaitkan dengan IRGC, menyusul serangan drone yang menewaskan seorang kontraktor AS.
Ketegangan berulang terjadi pada Agustus 2024 ketika SDF memberlakukan pengepungan baru terhadap Security Box. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas serangan milisi suku dari wilayah pemerintahan Suriah ke posisi SDF di Deir ez-Zor.
Sekali lagi, Rusia berperan sebagai mediator utama. Pengepungan tersebut diakhiri melalui kesepakatan tidak tertulis, mempertahankan status quo yang rapuh di jantung Hasakah.
Perubahan paling drastis terjadi setelah jatuhnya rezim Assad pada Desember 2024. Pada 6–7 Desember, sisa wilayah pemerintah di Hasakah diserahkan sepenuhnya kepada SDF tanpa perlawanan.
SDF dan pasukan Assad kemudian mesra kembali usai serangan PKK/SDF ke Turkiye yang membuat Ankara memutuskan mendirikan buffer zone di perbatasan dengan Suriah.
Pada akhir 2025, pemerintahan Ahmed Al Sharaa menguasai hampir semua wilayah SDF, termasuk sebagian provinsi Hasakah usai provokasi PKK/SDF yang gagal di Syeikh Maqsood, Aleppo.
Fase baru dimulai pada Februari 2026, setelah ofensif Suriah timur laut. Pasukan pemerintah transisi Suriah memasuki Hasakah pada 2 Februari sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata, menandai babak baru negosiasi kekuasaan di kota tersebut. Gubernur dari SDF diangkat sementara kepala keamanan dari Damaskus.
Sejarah Hasakah sejak 2012 hingga kini mencerminkan konflik Suriah dalam skala mikro: perebutan kekuasaan, kompromi paksa, konflik etnis, ancaman ekstremisme, dan diplomasi senyap. Kota ini tetap menjadi barometer stabilitas Suriah timur laut di masa depan.
Tags
indonesia