Krisis berkepanjangan di Suriah kembali memantulkan dampaknya ke Irak utara, khususnya Erbil, setelah perdebatan identitas dan sejarah demografi mencuat di platform X. Isu ini mengemuka bersamaan dengan meningkatnya ketegangan regional pascaperang Suriah yang belum sepenuhnya mereda.
Pada 23 Januari 2026, sebuah unggahan viral dari akun @AwadAbnsad menarik perhatian luas warganet Timur Tengah. Akun tersebut, yang mengaku sebagai Mohamed Awad dan menyebut diri Amir Qabail Zubaidiyah, mempublikasikan seruan bernada konfrontatif terkait wilayah Kurdistan Irak.
Dalam unggahannya, Awad menyasar kota Erbil dengan bahasa keras dan menyebut Kurdistan sebagai entitas palsu. Ia mengeklaim bahwa tanah tersebut merupakan wilayah leluhur suku Zubaid dari Madhaj sejak sebelum kehadiran orang Kurd di kawasan itu.
Seruan tersebut disertai tuntutan pembentukan wilayah otonom yang disebut “Iqlim Al Zubaid” dalam kerangka Irak federal. Awad juga menyebut adanya aliansi strategis dengan Suriah, mengaitkan klaimnya dengan dinamika regional yang lebih luas.
Unggahan itu diperkuat dengan peta visual yang dimodifikasi, menampilkan seluruh wilayah Kurdistan Irak berwarna hijau dan dilabeli sebagai Iqlim Zubaid. Penambahan penanda negara-negara sekitar memberikan kesan klaim geopolitik yang melampaui isu lokal.
Tak lama kemudian, Awad mengunggah peta lanjutan yang menampilkan pembagian wilayah berdasarkan persebaran suku Arab. Nama-nama seperti Al Zubaid, Al Jubour, Al Dulaim, Al Shamiyin, dan Al Uqaydat dicantumkan untuk menegaskan narasi dominasi Arab di kawasan tersebut.
Profil akun Awad memperlihatkan citra aktivisme nasionalis Arab. Ia menggambarkan dirinya sebagai putra kawasan Efrat timur dan mantan pengungsi, dengan penekanan kuat pada isu sejarah dan hak kolektif suku.
Respons warganet datang dengan cepat dan massif. Tagar #Arbil_Zubaidiyah sempat ramai digunakan, menandai tingginya interaksi sekaligus polarisasi pandangan di ruang digital.
Sebagian pengguna memberikan dukungan terbuka terhadap klaim tersebut. Mereka menggemakan narasi hak penentuan nasib sendiri bagi suku Zubaid dan mengaitkannya dengan pengalaman konflik dan migrasi di Irak dan Suriah.
Nada dukungan itu diwarnai seruan agar isu tersebut dibawa ke forum internasional, termasuk PBB dan lembaga HAM. Permintaan ini mencerminkan bagaimana konflik Suriah telah mendorong aktor non-negara memanfaatkan ruang global untuk mengangkat klaim lokal.
Di sisi lain, reaksi penolakan muncul dari pengguna berlatar belakang Kurdi. Balasan bernada sindiran, tantangan langsung, hingga ejekan kasar memperlihatkan ketegangan identitas yang masih kuat di Irak utara.
Sebagian pengguna Kurdi menyoroti Erbil sebagai kota dengan sejarah panjang multietnis. Mereka menolak klaim suku tunggal dan menegaskan kontinuitas kehadiran Kurdi di wilayah tersebut.
Komentar lain membawa perdebatan ke lapisan sejarah yang lebih dalam. Ada yang menyebutkan warisan Assyria, Yazidi, dan Chaldean sebagai penduduk awal Irak utara, menempatkan seluruh klaim suku modern dalam konteks migrasi pascaperadaban kuno.
Perdebatan juga menghidupkan kembali narasi klasik tentang asal-usul suku Zubaid sebagai bagian dari rumpun Qahtaniyah dari Yaman. Penyebaran mereka ke Irak dan Suriah kerap dikaitkan dengan penaklukan dan migrasi pada masa awal Islam.
Keterkaitan Suriah dalam narasi ini tidak terlepas dari dampak perang yang mendorong mobilitas penduduk, retakan identitas, dan politisasi sejarah. Krisis Suriah telah memperkuat kecenderungan membaca ulang peta demografi lintas batas.
Erbil, dalam konteks ini, muncul sebagai simbol pertemuan sejarah yang berlapis. Kota ini sejak lama menjadi ruang hidup bersama berbagai etnis, di mana perubahan demografi berlangsung secara bertahap melalui migrasi, konflik, dan kebijakan negara.
Peta-peta digital yang beredar memperlihatkan bagaimana sejarah demografi dapat direkonstruksi ulang secara visual untuk mendukung narasi tertentu. Di tengah krisis regional, visualisasi semacam itu cepat menyebar dan memengaruhi persepsi publik.
Diskursus yang berkembang di X menunjukkan bahwa konflik Suriah tidak berhenti pada garis depan militer. Ia menjalar ke ruang wacana, menghidupkan kembali perdebatan lama tentang identitas, tanah, dan legitimasi historis.
Bagi sebagian pengguna, unggahan tersebut dibaca sebagai sindiran satir terhadap klaim separatis yang kerap muncul di kawasan. Namun bagi yang lain, ia dipahami secara literal dan memicu respons emosional.
Fenomena ini menegaskan rapuhnya keseimbangan sosial di wilayah pascakonflik. Sejarah demografi yang kompleks dapat dengan mudah menjadi alat mobilisasi ketika krisis regional masih membara.
Dengan demikian, imbas krisis Suriah terlihat bukan hanya dalam arus pengungsi dan keamanan, tetapi juga dalam kebangkitan perdebatan identitas di Erbil. Sejarah lama yang sempat meredup kembali mencuat, dipicu oleh dinamika politik dan emosi kolektif di era media sosial.
Baca selanjutnya
Tags
indonesia